
Meriam mulai masuk ke Sumatera Barat pada abad ke-16 dan 17 melalui perdagangan dan hubungan internasional melalui pelaut dari Portugal, Aceh, dan Malaka. Sebagai alat perang, Meriam menjadi alat yang penting digunakan saat Perang Paderi meletus baik oleh kamu Paderi dan kaum adat.
Kehadiran penjajah Belanda yang membuat situasi semakin ricuh juga ikut serta dalam menggunakan meriam, tepatnya di Benteng de Kock (Bukittinggi) dan Benteng Van der Capellen (Batusangkar). Oleh karena itu, Meriam dilihat sebagai simbol kekuasaan kolonial.
