
Teko memiliki sejarah yang dalam di Sumatera Barat. Sebagai wadah minuman tradisional yang yang sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, Teko memiliki nilai sosial dan budaya yang kental sehingga posisi Teko sudah menjadi lebih dari sekedar sebuah tempat menyajikan air minum, teh, dan kopi.
Keberadaan Teko dalam ranah minang semakin meluas ketika Belanda menjajah Sumatera Barat, dimana mereka membawa peralatan rumah tangga yang terbuat dari logam dan keramik, yang kemudian diadaptasi oleh masyarakat sebagai kebutuhan lokal yang bertahan hingga sekarang sehingga lahir tradisi “minum teh” yang dilakukan di Rumah Gadang, kedai kopi, maupun saat menyambut tamu.
Tradisi tersebut menekankan filosofi “duduk samo randah, tegak samo tinggi” yang menandakan kesetaraan dalam kebersamaan. Oleh karena itu, teko dapat ditemukan dalam berbagai acara adat, musyawarah, dan juga pertemuan keluarga.
