Benda Budaya – Batu Kapur, Batu Tulis, dan Batu Apung

Koleksi ini menampilkan tiga spesimen batuan berbeda yang mencerminkan keragaman geologis Sumatera Barat, masing-masing disajikan di atas alas presentasi berwarna cokelat kemerahan. Tiga jenis batuan yang dipajang adalah Batu Kapur, Batu Tulis, dan Batu Apung.

Spesimen pertama (kiri) adalah Batu Kapur (Limestone), sebuah batuan sedimen yang umumnya berwarna abu-abu muda hingga gelap. Batuan ini ditandai dengan tekstur yang relatif halus dan berlapis. Batu Kapur memiliki nilai ekonomi dan sejarah yang penting, sering digunakan dalam konstruksi dan sebagai sumber material. Batuan ini berasal dari daerah Kenyian, Kabupaten Agam, sebuah wilayah yang dikenal memiliki formasi batuan karbonat yang luas.

Spesimen kedua (tengah) adalah Batu Tulis (Slate), sebuah batuan metamorf berbutir halus yang berasal dari Batulempung atau Batulanau. Batuan ini berwarna cokelat kehijauan dan memiliki karakteristik dapat dibelah menjadi lembaran tipis dan datar. Bentuknya pipih dan bersudut tajam. Batuan ini berasal dari Tanjung Balit, Kabupaten Solok. Batu Tulis secara tradisional digunakan sebagai bahan atap atau papan tulis.

Spesimen ketiga (kanan) adalah Batu Apung (Pumice), sebuah batuan beku vulkanik yang sangat ringan dan berongga. Batuan ini berwarna krem kecoklatan dan memiliki tekstur seperti busa kering yang kasar. Batu Apung berasal dari Tandikat, Kabupaten Padang Pariaman. Kehadiran Batu Apung, Batu Kapur, dan Batu Tulis secara bersamaan dalam koleksi ini menunjukkan kontras antara produk vulkanik (Batu Apung), batuan sedimen (Batu Kapur), dan batuan metamorf (Batu Tulis) di geologi regional.