Benda Budaya – Tabung Air dan Loyang Kue

Tabung air dan loyang kue turut serta menjadi bagian dari budaya Minangkabau dengan aspek historis yang kaya. Masyarakat Minang menjunjung tinggi akan nilai keramah-tamahan dalam menyuguhi tamu dan suka menyajikan air minum dan berbagai macam kue untuk dinikmati.

Tabung air tersebut biasanya terbuat dari bambu, tanah liat, atau logam, sedangkan loyang kue yang baru dikenalkan pada zaman kolonial Belanda biasanya terbuat dari kuningan atau besi cor. Masyarakat yang tinggal di nagari dan perbukitan biasanya menggunakan tabung air yang terbuat dari bambu besar (aur atau talang) untuk menampung air dari mata air atau sumur. Tabung air yang terbuat dari tanah liat (kendi atau buyung) digunakan sebagai penyimpanan air agar tetap segar dan dingin karena secara alami tanah liat memiliki pori-pori alami yang membantu menjaga suhu air. Untuk loyang kue, alat tersebut biasanya digunakan masyarakat untuk membuat kue khas Minang seperti kue sapik, kue satu, kue bolu tradisional, dan kue bahulu. Loyang kue melambangkan kebersamaan, gotong royong, dan silaturahmi sekaligus berkaitan dengan tradisi kuliner Minang yang dapat terlihat pada hari raya dalam agama Islam.